Tulisan ini berasal dari jawaban tim review TI KPU-BPPT atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Jawa Pos (Bp.Tri Mujoko Bayuaji).
Pada kesempatan ini perkenankan kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada rekan-rekan operator di KPU Kabupaten/Kota atas dedikasi dan semangat yang tinggi dalam melakukan entri data dan operator di KPU Provinsi yang telah mendukung persiapan dan pelaksanaan entri data sebagai wujud peran serta menyukseskan Pemilu 2009.
Terkait pertanyaan Bapak, berikut adalah jawaban kami.
- Sebelum memasuki proses Tabulasi Pemilu, upaya dan persiapan seperti apa yang sudah dilakukan tim TI (utamanya dari BPPT)?
Mulai saat ditandantanganinya MOU dan PKS antara BPPT dengan KPU pada tanggal 12 Maret 2009, tim TI BPPT telah melakukan hal-hal sebagai berikut:
- Melakukan review terhadap rancangan teknis TI KPU
- Melakukan standarisasi teknologi (ICR, Sistem Integrasi, Data Center, Keamanan Data dan Jaringan, dll.)
- Membantu melakukan pelatihan penggunaan ICR kepada operator KPU Kabupaten/Kota
- Melakukan supervisi dan testing implementasi teknologi informasi
- Membuat prosedur operasional standar penggunaan ICR
- Membantu penggelaran jaringan VPN
- Melakukan supervisi pemeliharaan Data Center
- Membantu rancangan teknis dan supervisi Sistem Integrator dalam menyediakan perangkat lunak pengiriman, penerimaan hingga penayangan data perolehan suara Pemilu 2009
- Melakukan operasionalisasi Data Center dan Help Desk
- Saat menyusun berbagai macam persiapan untuk Tabulasi tersebut, apakah memang ada terkendala? semisal waktu mepet? atau kendala teknis lain?
Waktu yang sangat pendek tidak memungkinkan tim TI BPPT melakukan review secara optimal. Secara garis besar kendala di lapangan dapat dikategorikan ke dalam 3 hal:
- Teknologi
- Software ICR : ICR sebagai suatu teknologi sudah terbukti (proven) dan matang (mature), tetapi ketika itu diintegrasikan ke dalam suatu aplikasi/software, kualitas yang dihasilkan oleh vendor berbeda-beda.
- Form C1-IT : Form C1-IT kurang memenuhi standar input teknologi ICR
- Software Pengiriman : skalabilitasnya kurang baik
- Proses
Kendala waktu menyebabkan SOP dan standarisasi yang disusun tidak dapat tersosialisasi dan terimplementasikan dengan baik
- SDM
- Kurangnya sosialisasi kepada petugas di lapangan, baik KPPS sebagai ujung tombak pengisian form C1-IT maupun operator entri data di KPU Kabupaten/Kota
- Jumlah operator tidak memadai (dua orang) dibandingkan dengan jumlah TPS yang perlu dientri.
- Teknologi
- Jika terkendala, apa yang saat itu diupayakan oleh tim TI?
- Teknologi: melakukan review, standarisasi dan pengujian/testing teknologi yang dipakai
- Proses : dibuat SOP (entri data, help desk, validasi, dekripsi, dll)
- SDM :
- Melakukan pelatihan penggunaan aplikasi ICR dan pengiriman
- Memohon kepada KPU untuk menambah jumlah operator KPU Kabupaten/Kota berlatar belakang TI
- Melakukan pendampingan operator melalui helpdesk KPU maupun helpdesk dari vendor software ICR
- permohonan kepada pemda Kabupaten/Kota untuk menyediakan tenaga tambahan yang mengerti TI (utamanya petugas PDE maupun Diknas yang sudah terbiasa menggunakan scanner)
- Untuk target awal, sebenarnya prediksi proses Tabulasi dari daerah ke pusat direncanakan seperti apa? Berapa target suara masuk untuk satu harinya?
Simulasi pada kondisi ideal (kertas form C1-IT yang memenuhi standar input ICR, petugas KPPS dan operator entri data serta akurasi software ICR di atas 95%), satu batch proses (1 TPS) memerlukan waktu sekitar 5 menit. Sehingga dalam satu jam dapat diselesaikan 12 TPS. Apabila dalam satu hari diberlakukan 3 shift, maka hasil yang diperoleh berkisar 200-300 TPS per hari.
- Memasuki tabulasi, secara umum, publik melihat tabulasi berjalan lamban. Apa kendala yang dihadapi? Apakah dari TI, atau dari proses di daerah? Seperti apa?
Kendala yang dihadapi seperti yang kami jelaskan di atas (teknologi-proses-SDM).
- Teknologi:
- Kertas C1-IT yang tidak standar mengakibatkan proses pengenalan oleh software ICR menjadi rendah. Ketika hasil pengenalan rendah, beban operator untuk mengoreksi menjadi besar, dan itu mengakibatkan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan satu batch proses menjadi lama. Hal ini bisa lebih lama lagi apabila penulisan form C1-IT oleh petugas KPPS juga salah.
- Aplikasi pengiriman yang kurang baik skalabilitasnya menyebabkan antrian dan berkontribusi pada kelambatan pengiriman data ke KPU.
- Proses : SOP dan standarisasi tidak sepenuhnya tersosialisasi dan terimplementasikan
- SDM : Operator yang kurang mendapat pelatihan dan sosialisasi menyebabkan kegamangan operator KPU Kabupaten/Kota dalam melakukan instalasi dan mengoperasikan software ICR maupun pengiriman. Jumlah operator tidak memadai (dua orang) dibandingkan dengan jumlah TPS yang perlu dientri.
- Teknologi:
- Benarkah SDM KPU di daerah kurang mampu untuk melakukan Tabulasi?
Kurangnya pelatihan dan sosialisasi turut berperan dalam menciptakan kegamangan mereka dalam melakukan instalasi dan mengoperasikan aplikasi ICR dan pengiriman.
- Ada kabar bahwa kualitas scanner memang diragukan. Apakah itu betul? Apa memang bisa menjadi kendala?
Kualitas scanner sepanjang pemantauan kami tidak ada masalah.
- Sempat terjadi kesalahan pada pendataan caleg Partai Demokrat di dapil Sulsel II pada 15 April lalu. Kesalahan seperti apa pada saat itu?
Lihat penjelasan kami di http://tipemilu2009.wordpress.com/2009/04/15/penjelasan-masalah-icr/
- Terkait sistem ICR, ada yang meragukan, Benarkah itu yang paling ideal saat ini?
Setiap teknologi memiliki kelebihan dan kekurangan. ICR adalah assissted data entry untuk membantu/mempercepat operator melakukan entri data. Secara akademis, akurasi pembacaan ICR sangat tinggi (lebih dari 99% : lihat Yann LeCun, Corinna Cortes: The MNIST Database of handwritten digits : http://yann.lecun.com/exdb/mnist/ (diakses 19 Maret 2009). Teknologi ini telah dipakai pada level operasional di Indonesia, misalnya pemrosesan data pembayar pajak, BPS, bank, dsb.
Pada Pemilu Legislatif 2009, jumlah entri data yang harus dilakukan operator sangat banyak (sekitar 500 entri untuk tiap formulir C1-IT). Untuk mencapai tingkat keberhasilan yang tinggi, diperlukan kondisi-kondisi yang menunjang teknologi ini, seperti pengisian form C1-IT yang benar, penggunaan kertas yang sesuai standar input ICR, akurasi software yang tinggi dan operator yang terlatih.
Selain data hasil perhitungan Pemilu, dokumen elektronik yang dihasilkan aplikasi ICR dapat digunakan sebagai electronic document filing, yang dapat dijadikan bukti hukum apabila terjadi sengketa hasil Pemilu.
Kami terus melakukan yang terbaik agar target yang tinggi dapat dipenuhi.
Demikian penjelasan dari kami, terima kasih.
Dr. Husni Fahmi
DIarsipkan di bawah: press release | 4 Komentar »




